Juni 2011,
Aku terdiam menatap sang penguasa malam. Tak pernah berhenti untuk mengaguminya. Dan aku teringat oleh seseorang yang kuanggap sbagai bulanku. Walau dia dekat, namun jarak antara kita seperti bulan dan bumi. Sangat jauh. Ingin bisa menggapai namun tidak banyak berharap. Karena aku tahu dia dan aku telah berakhir. Aku ingin dia bisa mengenangku seperti aku mengenangnya. Namun aku tidak pernah menjadi matahari atau bumi baginya. Aku hanya setitik debu di antariksa. Tidak berarti dan terlupakan. Tetapi sekali lagi dia adalah bulan; tak terlupakan bagi debu yang mengambang di antara bumi dan bulan. Sang Bulan tidak akan pernah tahu bahwa debu ini ingin supaya bulan bisa melihat dan mengingatnya. Apakah debu pantas diingat oleh Sang Bulan? Menurutku tidak.
Aku menghela nafas. Sadar akan posisiku. Sadar tentang apa yang telah berakir dan tidak pantas untuk diharapkan. Kututup mataku, memeriksa hati, mencari rasa sayang untuknya. Ternyata aku masih dapat menemukannya. Namun rasa ingin memiliki sudah lenyap. Kini perasaan ini lebih tulus. Meski diawali dengan rasa sakit, aku melepas dan mengikhlaskannya. Berharap dan mendoakan dia mendapatkan wanita yang lebih baik juga kehidupan yang lebih baik. Aku memutuskan untuk melanjutkan hidupku. Banyak hal yang perlu dihadapi di depan. Debu ini telah kembali berkelana ; terbang dari tata surya satu ke tata surya lain. Perjalanan panjangnya telah dimulai. Namun Debu tidak akan pernah melupakan Sang Bulan bahkan saat dia bertemu benda langit yang lebih indah sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar