Nafasku memburu. Keringatku mengalir deras. Tenggorokanku mulai serak memanggil-manggil seseorang yang berjalan di depanku.
Jarak kami sebenarnya tidak jauh, namun sekuat apapun aku berlari aku tidak bisa menyusulnya. Aku mulai panik, tenagaku mulai habis. Bagaimana jika aku tidak bisa menyusulnya? Tempat ini begitu sepi dan aku sama sekali tidak mengenalinya. Hanya dia satu-satunya harapanku supaya aku keluar dari tempat ini.
Aku mulai putus asa, langkahku melambat. Namun sesaat aku menyadari betapa gelapnya dan dinginnya tempat ini. Aku memaksa diriku untuk berlari dan memanggil dia lagi. Otot-otot kakiku mulai terasa nyeri sedangkan jantung dan paru-paruku serasa mau meledak. Namun tak disangka, orang di depan itu menoleh.
Pandangannya tampak aneh, hatiku mulai was-was dan curiga namun aku menguatkan dan membujuk hati. Aku tersenyum lega kepadanya, dia membalasnya. Sebenarnya senyumnya tidak sepenuhnya menyenangkan, tipis dan terlihat menyembunyikan sesuatu, namun hal itu tetap membuatku agak lega.
Dia menghampiriku dan mengulurkan tangannya. Kali ini perasaan was-was di hatiku berhasil kukalahkan. Aku menyambut tangannya dan saat itu aku tidak menyesal sama sekali. Tangannya hangat dan caranya menggenggamku seperti orang yang kukenal sebelumnya. Kali ini aku sepenuhnya mengalahkan suara panik di hatiku.
Tak lama kemudian kami mulai berjalan bersama. Dan tiba-tiba tempat ini jadi tidak begitu menakutkan. Kegelapan yang tadi kutakuti sekarang jadi menyenangkan.
###
Suara panik di hatiku mulai terdengar lagi, sepertinya memang di dalam lubuk hatiku aku tidak percaya orang ini, namun aku mengacuhkannya.
Aku mulai menyadari jalan yang kami lalui lebih gelap dari tempat yang tadi dan suara teriakan panik hatiku mulai terdengar kembali. Kali ini aku tidak bisa mengacuhkannya, kali ini aku membujuk hatiku kembali. Dan suara itu mulai tidak terdengar kembali.
Tidak sampai sejam kemudian kami bertemu jurang yang dalam. Jurang itu tidak lebar namun tidak sesempit untuk mudah diloncati. Kami mulai berpikir bagaimana melaluinya.
Kami memutuskan untuk mencari jalan pintas ataupun jembatan yang menghubungkan kedua bibir jurang. Kami berpisah sementara. Dia ke arah kiri dan aku ke arah kanan.
Tak lama kemudian aku menemukan jembatan tua yang tampak rapuh dan aku berteriak untuk memanggil dia. Mungkin saja jembatan rapuh tua yang rapuh ini bisa digunakan untuk menyebrangi jurang ini. Apah jembatan ini layak untuk disebrangi, biarlah kami memutuskan bersama.
Dia datang beberapa detik setelah aku berteriak, ekspresinya datar. Raut mukanya berubah jadi keruh saat melihat jembatan tua itu. Aku tersenyum geli melihat perubahan ekspresinya yang begitu cepat.
Tiba-tiba saja dia sudah berjalan ke arah jembatan itu. Aku heran dan bertanya padanya. Namun dia menjawab sekenanya dan mulai menapakkan kakinya ke atas jembatan itu.
Aku cemas dengan keputusannya untuk mencoba, aku takut jembatan itu tidak kuat untuk menahan berat badannya. Namun ternyata dengan cepat dia sudah sampai di seberang.
Dia melambai kepadaku dan aku mulai menyebrang.
.......................................................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar